Peredaran Uang Palsu Jelang Pilkada Lotim

Redaksi   |   Hukum Dan Kriminal  |   Sabtu, 23 Juni 2018 - 16:18:27 WIB   |  dibaca: 202 kali
Peredaran Uang Palsu Jelang Pilkada Lotim

MahesaMediaCenter.id - Ditengarai, peredaran uang palsu semakin meningkat menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) yang akan berlangsung serentak pada 27 Juni 2018. Pilkada serentak yang diikuti 171 daerah (17 provinsi, 39 kota dan 115 kabupaten) tersebut disinyalir rawan terhadap merebaknya peredaran uang palsu.

Secara faktual, dalam beberapa bulan terakhir, aparat kepolisian memang semakin sering melakukan penangkapan terhadap pelaku pemalsuan uang di berbagai daerah. Pemberitaan media massa seputar pengungkapan kasus uang palsu juga semakin intens.

Hal ini memunculkan persepsi bahwa peredaran uang palsu memiliki keterkaitan dengan hajatan pemilu.

Isu mengenai merebaknya peredaran uang palsu memang selalu menghiasi media massa setiap kali menjelang pemilu atau pilkada dari dulu hingga sekarang. Kondisi ini sudah berlangsung sejak pemilu pertama kali digelar di Era Orde Baru pada 5 Juli 1971.

Persepsi ini dapat dimengerti karena peredaran uang yang begitu besar menjelang pemilu, khususnya pilkada serentak 2018 yang membutuhkan anggaran sekitar Rp20 triliun, berpotensi dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab untuk meningkatkan aksi pengedaran uang palsu di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, setiap kali akan berlangsung pemilu, Polri selalu mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai uang palsu. Pada saat yang sama, Polri semakin gencar melakukan operasi penangkapan dan pengungkapan jaringan kejahatan ini.

Namun, Polri maupun Bank Indonesia sama-sama memastikan bahwa pelaksanaan pemilu/pilkada tidak berkaitan langsung dengan meningkatnya peredaran uang palsu. Peredaran uang palsu terus berlangsung sepanjang tahun dan merupakan bentuk kejahatan yang terjadi di hampir semua negara.

Hanya saja, para pelaku pemalsu uang, cenderung meningkatkan aksinya dengan memanfaatkan momentum di mana peredaran uang di masya

akat sedang meningkat tajam seperti saat Lebaran dan pemilu/pilkada.

Berdasarkan hasil monitoring Bank Indonesia, peredaran uang palsu paling banyak ditemukan di Pulau Jawa dibandingkan dengan wilayah lainnya. Sasaran utamanya adalah warung-warung, toko kecil serta transportasi umum yang tidak memiliki alat detektor serta tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk mengenali uang palsu.

Jika ditelaah lebih jauh, sesungguhnya peredaran uang palsu di Tanah Air relatif kecil. Data Polri menunjukkan pada 2015 uang palsu yang ditemukan rasionya hanya sebanyak 21 lembar dari tiap 1 juta lembar. Pada 2016, intensitasnya turun menjadi rata-rata 13 lembar uang palsu dalam setiap 1 juta lembar uang beredar. Pada tahun lalu, rasionya bahkan hanya ditemukan sebanyak 4 lembar uang palsu dalam tiap 1 juta lembar uang yang beredar.

Meski peredarannya relatif kecil, upaya pemberantasan uang palsu di Indonesia tidak boleh kendur dan harus terus ditingkatkan mengingat kejahatan ini berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi domestik dan bisa mengikis kepercayaan dunia internasional.

Oleh karena itu, kita sangat mengapresiasi ketekunan Polri yang tidak kenal lelah memerangi peredaran uang palsu di Tanah Air. Sepanjang tiga tahun terakhir hingga 2017, Polri telah menangkap sedikitnya 574 tersangka pengedar uang palsu dan mengungkap sebanyak 264 kasus. Mereka umumnya beroperasi dalam jaringan yang terorganisir cukup rapi.

Namun, melihat kecenderungan pelaku sindikat yang memanfaatkan momentum pemilu/pilkada untuk memperluas peredaran uang palsu, kita berharap aparat Polri semakin meningkatkan operasi menjelang pelaksanaan pilkada tahun ini.

Kita juga berharap Bank Indonesia terus-menerus melakukan sosialisasi dan edukasi terutama di kalangan masyarakat menengah-bawah tentang bagaimana mengenali keaslian uang rupiah.

Bagaimanapun, kejahatan pemalsuan uang merupakan fenomena gunung es di mana jumlah uang palsu yang berhasil ditemukan dan pengungkapan kasus oleh Polri hanyalah bagian kecil dari permukaan yang tampak, sedangkan jumlah uang palsu yang beredar tentunya lebih besar.

Oleh karena itu, memerangi peredaran uang palsu harus dilakukan tanpa henti dan terus ditingkatkan melalui koordinasi yang semakin kuat antarlembaga.

Profil Redaksi

Redaksi

Mahesa Media Center adalah sebuah media online yang mengakomodir dari media-media online yang ada dibawah pengelolaan Mahesa Media Center.

Mahesa Media Center Menginspirasi Berita yang Terpercaya di Jagad Dunia Maya ini.

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar By Facebook